Minggu, 02 Juni 2013

MAKALAH EMULSI

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim
Puji rasa syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “EMULSI”.
Tidak lupa Sholawat serta Salam kita ucapkan kepada Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman Islamiah.
Bergema seiring nada mengalunkan kata hati yang senantiasa mengungkapkan getaran jiwa, penyusun dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan pihak yang turut membantu terselesainya makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya dan dapat diterima oleh Ibu Dra. Sabiha Ramdlani J, selaku dosen pengampu mata kuliah Farmasetika 1 ini.


Pekalongan, Mei 2013

Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan  dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Ditinjau dari segi kepolaran, emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan non polar. Salah satu emulsi yang kita kenal sehari-hari adalah susu, di mana lemak terdispersi dalam air. Dalam susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi. Bebera contoh emulsi yang lain adalah pembuatan es krim, sabun, deterjen, yang menggunakan pengemulsi gelatin.
Dari hal tersebut diatas maka sangatlah penting untuk mempelajari sistem emulsi karena dengan tahu banyak tentang sistem emulsi ini maka akan lebih mudah juga untuk mengetahui zat – zat pengemulsi apa saja yang cocok untuk menstabilkan emulsi selain itu juga dapat diketahui faktor – faktor yang menentukan stabilnya emulsi tersebut karena selain faktor zat pengemulsi tersebut juga dipengaruhi gaya sebagai penstabil emulsi. Sistem emulsi termasuk jenis koloid dengan fase terdispersinya berupa zat cair namun dalam makalah ini kita hanya akan membahas mengenai emulsi yang menyangkut sediaan obat dalam ruang ringkup farmasetika.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi emulsi ?
2.      Apa saja komponen- komponen emulsi?
3.      Apa saja tipe emulsi?
4.      Apa tujuan pemakaian emulsi ?
5.      Apa saja teori terjadinya emulsi?
6.      Apa saja bahan-bahan pengemulsi?
7.      Bagaimana cara pembuatan emulsi ?
8.      Bagaimana cara membedakan tipe emulsi?
9.      Bagaimana emulsi dikatakan stabil ?
10.  Apa saja kelebihan serta kekurangan sediaan emulsi?
11.  Evaluasi resep dan contoh produk yang beredar dalam pasaran.

C.    Tujuan
Mahasiswa dapat :
1.         Mengetahui definisi emulsi.
2.         Mengetahui komponen- komponen emulsi.
3.         Mengetahui tipe emulsi.
4.         Mengetahui tujuan pemakaian emulsi.
5.         Mengetahui teori terjadinya emulsi.
6.         Mengetahui bahan-bahan pengemulsi.
7.         Mengetahui cara pembuatan emulsi.
8.         Mengetahui cara membedakan tipe emulsi.
9.         Mengetahui kestabilan emulsi.
10.     Mengetahui kelebihan serta kekurangan sediaan emulsi.
11.     Mengetahui contoh dan cara mengerjakan resep serta contoh produk yang beredar dalam pasaran.





BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Emulsi
Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase  yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi  dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent)
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut.
Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan.

B.            Komponen Emulsi
Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu :
1.        Komponen dasar
       Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :
§  Fase dispers /  fase internal /  fase diskontinue
Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain.

§  Fase  kontinue / fase external / fase luar
Yaitu zat  cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.

§  Emulgator.
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.

2.        Komponen tambahan
          Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada   emulsi  untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.
          Preservative yang digunakan  antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain.
          Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol,  asam sitrat, propil gallat , asam gallat.
                       
C.      Tipe Emulsi
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :
 1.   Emulsi tipe  O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air).
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external.

2.    Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak)
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external.

D.      Tujuan pemakaian emulsi
Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil  dan rata dari campuran  dua cairan yang saling tidak bisa bercampur.

Tujuan pemakaian emulsi adalah :
1.        Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w

2.    Dipergunakan sebagai obat luar.
Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang dikehendaki.

E.            Teori Terjadinya Emulsi
Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah :

1.    Teori Tegangan Permukaan  (Surface Tension)

          Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi.

          Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan  karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan  tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension).

          Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur  (immicible liquid). Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas (interfacial tension).
          Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan  antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tertentu antara lain sabun (sapo).
       Dalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan menghilangkan tegangan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua  zat  cair tersebut akan mudah bercampur.


2.    Teori Orientasi  Bentuk Baji (Oriented Wedge)
          Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua  kelompok yakni :
·           Kelompok hidrofilik, yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air.
·           Kelompok lipofilik , yaitu bagian yang suka pada minyak.

            Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya, kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan.
            Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah   H.L.B. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil .
            Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.
            Dalam tabel dibawah ini dapat dilihat keguaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.

HARGA HLB

K E G U N A A N

         1  -  3

  Anti foaming agent

         4  –  6

  Emulgator tipe w/o

         7  –  9
  Bahan pembasah ( wetting agent)
         8  – 18
  Emulgator tipe o/w
         13 - 15
  Detergent
         10 – 18
  Kelarutan (solubilizing agent)

          Untuk menentukan komposisi campuran emulgator sesuai dengan nilai HLB yang dikehendaki , dapat dilakukan dengan contoh perhitungan seperti tersebut dibawah ini.

Contoh :
Pada pembuatan 100 ml emulsi tipe o/w diperlukan emulgator dengan harga HLB 12. Sebagai emulgator dipakai campuran Span 20 (HLB 8,6) dan tween 20 (HLB 16,7) sebanyak                5 gram. Berapa gram masing-masing berat  Span 20 dan Tween 20 ?

Jawab :
Rumus I
 


                        A % b  =   x 100 %

                        B % a   = ( 100% - A%)
                 
Keterangan :
x        =     Harga HLB yang diminta ( HLB Butuh)
A       =     Harga HLB  tinggi
B       =    Harga HLB  rendah

% Tween   =    X 100%     =  42%
                         X   5 gram           =  2,1 gram
% Span     =   100 % -  42 %               =   58 %                   
                         X   5 gram           =   2,9 gram







Rumus II.
 


(B1 x HLB1) + (B2 x HLB2) = (B campuran x HLB campuran)


B        =     Berat emulgator

Misalnya  berat tween      =   X
                 Berat span       =   5 – X
(X x 16,7) + (5-X) x 8,6  =   5 x 12
16,7 X + 43 – 8,6 X         =   60
                        8,1X         =   60 – 43
                             X         =    =  2,1  gram     (   tween)
Berat span                       =   5 – 2,1  =  2,9 gram

Cara menghitung nilai HLB dari campuran surfaktan
Contoh :
 R/ Tween 80  70%                      HLB = 15
     Span 80  30%                      HLB = 4,5
Perhitungan :

Cara I
Tween 80      =     x 15    =   10,5
Span 80        =     x  4,5  =   01,35
HLB Campuran                          11,85



       Cara II. (Cara Aligatie)

 

Tween 80

15

(X – 4,5)

(X – 4,5) : (15 – X) = 70 : 30 = 7 :3
              (X – 4,5) 3 = 7 (15 – X)
                3X – 13,5 = 105 – 7X
                         10X = 118,5
                             X = 11,85


X





Span 80




4,5




 (15 – X)
Jadi HLB Campuran = 11,85
Nilai HLB beberapa surfaktan

Zat
HLB

Zat
HLB
Tween 20
Tween 40
Tween 80
Tween 60
Tween 85
Tween 65

16,7
15,6
15,0
14,9
11,0
10,5


Span 20
Span 60
Span 80
Arlacel 83
Gom
Trietanolamin
8,6
4,7
4,3
3,7
8,0
12,0

Nilai HLB Butuh beberapa zat yang sering dipakai.

Nama Zat
HLB butuh (type a/m)
HLB butuh (type m/a)
Asam stearat
Setil alcohol
Paraffin
Vaselin
Cera alba
6

5
5
4
15
15
12
12
12

3.        Teori Interparsial Film
          Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper.
          Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil.
          Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai  adalah :
§   dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak
§   jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase- dispers
§   dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

4.    Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap)

          Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan  listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari  partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak      mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak , dan stabilitas emulsi akan bertambah.

          Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga  cara dibawah ini,
§  terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel
§  terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
§  terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.
   


F.             Bahan Pengemulsi (Emulgator)

·                Emulgator alam

          Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang  rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga  golongan yaitu :

1.       Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan.
          Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi, juga dapat dirusak bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet.

a. Gom Arab
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu
·      kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film)
·      terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang       (tiksotropi)
Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari jumlah minyaknya.
Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1,5 X berat gom, diaduk keras dan cepat sampai putih , lalu diencerkan dengan air sisanya. Selain itu dapat disebutkan : 

·      Lemak-lemak padat : PGA  sama banyak dengan lemak padat
Cara pembuatan .
Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom, buat corpus emulsi  dengan air panas 1,5 X  berat gom . Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. Contoh : cera, oleum cacao, parafin solid
·      Minyak atsiri :  PGA sama banyak dengan minyak atsiri

·      Minyak lemak  : PGA  ½  kali   berat minyak, kecuali oleum ricini  karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. Contoh :  Oeum amygdalarum

·      Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam  minyak lemak
Kedua minyak dicampur  dulu, zat padat dilarutkan dalam minyaknya, tambahkan gom  ( ½ x myk lemak  +  aa x  myk atsiri + aa x zat padat )

·      Bahan obat cair BJ tinggi, contohnya chloroform, bromoform :
Ditambah minyak lemak 10 x beratnya, maka BJ campuran mendekati satu. Gom sebanyak ¾  kali  bahan obat cair.

·      Balsam-balsam
Gom sama banyak dengan balsam.

·      Oleum Iecoris Aseli
Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. 

b. Tragacanth
Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4,5 – 6.

Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung.

                                                                
c. Agar-agar
Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab.
Sebelum  dipakai agar-agar  tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelan-pelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila  suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). Biasanya              digunakan 1-2 %

d. Chondrus
Sangat baik dipakai  untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa  dari minyak tersebut. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar.

e. Emulgator lain
Pektin, metil selulosa, karboksimetil selulosa  1-2 %.

2.    Emulgator alam dari hewan

a. Kuning telur
Kuning telur mengandung lecitin  (golongan  protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak  menguap dua kali  beratnya.

b. Adeps Lanae
Zat ini banyak mengandung kholesterol , merupakan emulgator tipe  w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya.

           
3.    Emulgator alam dari tanah mineral.

a. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum
Merupakan senyawa  anorganik  yang terdiri dari garam - garam magnesium dan aluminium. Dengan emulgator ini, emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak  1 %. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.

       b. Bentonit
Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %.


·           Emulgator buatan

1.    Sabun.
Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar, sangat peka terhadap elektrolit. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o, tergantung dari valensinya. Bila sabun tersebut bervalensi 1, misalnya sabun kalium, merupakan emulgator tipe o/w, sedangkan sabun dengan valensi 2 , missal sabun kalsium, merupakan emulgator tipe w/o.

2.    Tween 20 : 40 : 60 : 80

3.    Span   20 : 40 : 80

Emulgator dapat dikelompokkan menjadi :
·           Anionik        :    sabun alkali, natrium lauryl sulfat
·           Kationik       :    senyawa ammmonium kuartener
·           Non Ionik     :    tween dan span.
·           Amfoter        :    protein, lesitin.


G.           Cara Pembuatan Emulsi
Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi , secara singkat dapat dijelaskan :

1.        Metode gom kering atau metode kontinental.
Dalam metode ini zat pengemulsi  (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu, kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi, baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

2.   Metode gom basah atau metode Inggris.
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut)  agar membentuk suatu mucilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi, setelah itu  baru diencerkan dengan sisa air.

3.    Metode botol atau metode botol forbes.
Digunakan untuk minyak menguap dan  zat –zat  yang bersifat minyak  dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, kemudian ditambahkan 2 bagian air,  tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. 

Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi
Untuk membuat emulsi  biasa digunakan :

1.    Mortir dan stamper

Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik.

2.    Botol
Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus, hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya.

     3.    Mixer, blender
Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi , akibat putaran pisau tersebut, partikel akan berbentuk kecil-kecil.

4.    Homogeniser
Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar.

5.    Colloid Mill
Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. Coloid mill digunakan untuk memperoleh  derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan
           
                                                                
H.           Cara Membedakan Tipe Emulsi
          Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu    :

1.        Dengan  pengenceran fase.
Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Dengan prinsip tersebut, emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak.

2.    Dengan pengecatan/pemberian warna.
Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. Misalnya  (dilihat dibawah mikroskop)
-            Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o, karena sudan III larut dalam minyak
-            Emulsi +  larutan metilen blue  dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air.

3.   Dengan kertas saring.
Bila emulsi diteteskan pada kertas saring , kertas saring menjadi basah  maka tipe emulsi o/w, dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o.

4.    Dengan konduktivitas listrik
Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak, kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung- kan secara seri. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi  tipe o/w, dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o.


I.              Kesetabilan Emulsi
Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

1.    Creaming  yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible  artinya bila digojok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.

2.   Koalesen dan cracking  (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi  partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu).Sifatnya    irreversible ( tidak bisa diperbaiki).  Hal ini dapat terjadi karena :
·      Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO/CaCl2 exicatus.
·      Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan, pengadukan.

3.   Inversi  adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe  emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya.  Sifatnya irreversible.
                 
J.        Kelebihan dan Kekurangan Emulsi
i.      Kelebihan :
a.       Dapat membentuk sediaan yang saling tidak bercampur menjadi dapat bersatu menjadi sediaan yang homogen dan bersatu.
b.      Mudah ditelan.
c.       Dapat menutupi rasa yang tidak enak pada obat

ii.    Kekurangan :
a.       Kurang praktis dan staabilits rendah dibanding tablet.
b.      Takaran dosis kurang teliti.


K.           Contoh resep emulsi dengan adeps lanae :

                   R/      Adeps lanae            100
                Ol. Olivarum           400 ml
                Zinc. Oxyd             100
                Talc.                        100
                Sol. Pb. Acet.          28 ml
                Aq. Calcis               ad 1000 ml












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan  dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Biasanya terdiri dari dua komponen: komponen dasar yang terdiri dari fase dispersi, terdispersi dan emulgator serta komponen tambahan.
Emulsi merupakan suatu sistem dua fase yang terdiri dari dua cairan yang tidak mau bercampur, dimana cairan yang satu terbagi rata dalam cairan yang lain dalam bentuk butir-butir halus karena distabilkan oleh komponen yang ketiga yaitu emulgator. Emulgator sendiri bisa berasal dari alam maupun buatan.
Emulsi dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe emulsi o/w atau a/m dan  tipe emulsi w/o atau m/a. Sedangkan macamnya bibagi menjadi 3, yaitu : oral, topikal dan injeksi.
Emulsi akan dikatakan stabil jika didiamkan tidak membentuk agregat, jika memisah antara minyak dan air jika dikocok akan membentuk emulsi lagi serta jika terbentuka gregat, jika dikocok akan homogen kembali.


B.     Saran
Diharapkan Mahasiswa dapat lebih memahami tentang sediaan emulsi.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Syamsuni.2006. Ilmu Resep. ECG : Jakarta
2.      Ditjen POM. 1994. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen    Kesehatan Republik Indinesia: Jakarta.
3.      Anief, Moh. (2005). ”Ilmu Meracik Obat”, cetakan XII. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
4.      Ditjen POM. (1979), “Farmakope Indonesia”, Edisi III. Depkes RI: Jakarta, 474, 509.


0 komentar:

ENJOY and BE INSPIRED
Diberdayakan oleh Blogger.

tombo setres ^_^

Loading...

About Me

Foto Saya
RINTAN |SD KRATON KIDUL| SMPN 2 PEKALONGAN | SMAN 1 PEKALONGAN | UNIKAL |SUKSES|AMIN :)

PacMan v2.6

Mi perfil

Foto Saya
Rintan Permata
RINTAN |SD KRATON KIDUL| SMPN 2 PEKALONGAN | SMAN 1 PEKALONGAN | UNIKAL |SUKSES|AMIN :)
Lihat profil lengkapku